“Gimana ini, Mas? Duh, Mas sih ngeyel kalau dibilangin.” “Biar aku yang turun.” Aku buru-buru merapikan bajuku saat ada bapak-bapak mengetuk kaca mobil. Untungnya kegiatan panas yang aku dan suami lakukan sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Mau ditaruh mana wajah kami jika kepergok berbuat mecum di pinggir jalan. Dari dalam mobil aku dapat mendengar percakapan antara Mas Aiman dengan warga asli sini. Beliau mengira mobil yang kami tumpangi mogok setelah melewati jalan terjal dan berliku. “Langit mulai gelap dan gerimis mulai turun. Lebih baik Mas bergegas turun ke bawah karena masih ada belokan yang lumayan curam.” “Iya, Pak. Terima kasih informasinya.” “Sama-sama, Mas.” Setelah berbincang sebentar Mas Aiman kembali masuk ke dalam mobil. Langsung tancap gas sesuai perintah bapa

