Adu Mulut Pertama.

1100 Words

Langit sore Jakarta mendung, seolah ikut meresapi bara yang sudah lama mengendap dalam hati Nayara. Setelah pulang dari kantor Arga kemarin, hatinya tidak bisa tenang. Tatapan Shanaya, senyum penuh tantangan itu, terus menempel di kepalanya. Selama ini ia memilih diam, mencoba kuat, mencoba rasional. Namun diam yang terlalu lama hanya membuat luka makin dalam. Kali ini, Nayara tahu: jika ia tidak melawan, Shanaya akan menginjak-injak martabatnya lebih jauh. Kesempatan itu datang lebih cepat daripada yang ia bayangkan. Siang itu, saat ia menjemput Shaila di sekolah, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. [Kalau kamu ingin tahu siapa sebenarnya wanita yang selalu ada di samping suamimu, datanglah ke kafe di Jalan Senopati sore ini. Jangan terlambat.] Nayara memba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD