Aplikasi pesan pertama kali ia buka. Jantung Indira makin berdegup saat layar menampilkan daftar percakapan. Satu per satu ia telusuri. Grup kantor, obrolan dengan rekan bisnis, chat dengan asistennya, bahkan keluarga besar. Semua tampak bersih. Tidak ada nama mencurigakan. Tidak ada pesan mesra. Indira menggigit bibir. Perasaan gelisahnya makin menjadi. Ia membuka menu panggilan, berharap menemukan jejak nomor asing. Tapi di sana pun sama. Semua panggilan tercatat rapi, hanya urusan kantor. Seperti baru saja dibersihkan. Indira menahan napas, sadar. Mahesa sudah menghapus jejaknya. “Licik …,” gumamnya, jemari menggenggam erat ponsel itu. “Kamu pikir aku tidak bisa tahu?” Air matanya menitik, bukan karena lemah, tapi karena amarah. Mahesa bahkan punya pikiran sejauh itu—menyembunyika

