Malam itu rumah terasa terlalu sunyi. Jam dinding sudah menunjuk pukul setengah sebelas, tapi Nayara belum beranjak dari ruang tamu. Lampu utama dimatikan, hanya lampu sudut yang menyala lembut, menyoroti wajahnya yang tegang. Di meja kecil, secangkir teh sudah dingin, tak tersentuh sejak ia tuang sejam lalu. Sejak sore tadi, pikirannya dipenuhi satu bayangan yang terus menghantui: wajah Shanaya keluar dari ruang poli Obgyn di rumah sakit. Senyum puas di bibir wanita itu, langkahnya yang ringan, dan tatapan singkat penuh arti sebelum mereka berpapasan—semua berputar di kepalanya tanpa henti. Nayara menggenggam tangannya erat-erat. Jangan-jangan … jangan-jangan Shanaya hamil. Bayangan itu membuat napasnya tersengal. Ia membenci dirinya sendiri karena harus memikirkannya, tapi firasat itu

