“Cukup, Shanaya,” suara Arga berat, menekan. “Aku tidak suka drama seperti ini di kantorku. Kamu tahu semua mata di luar sana melihat kita.” Shanaya menunduk, suaranya bergetar, tapi setiap kata terucap dengan penuh perhitungan. “Arga, aku tidak punya tempat lain. Aku … aku tidak bisa sendiri. Beberapa hari ini aku menghilang karena … karena aku tidak sanggup menghadapi semuanya sendirian.” Arga mengepalkan tangannya di atas meja. Satu kalimat sederhana dari Shanaya cukup untuk membuat pikirannya penuh bayangan buruk. Ingatannya melayang ke ruang tunggu rumah sakit, ke wajah Nayara yang pucat saat bertanya tentang Shanaya di poli Obgyn. Ia memutuskan menusuk langsung. “Katakan padaku yang sebenarnya, Shanaya. Untuk apa kamu ada di Rumah Sakit?” Shanaya mendongak, matanya berkaca-kaca l

