“Coba ini, Ar. Katanya kambing muda dari peternakan khusus. Kamu pasti suka,” katanya sambil tersenyum. Beberapa tamu di sekitar mereka terkekeh. Ada yang menganggapnya manis, ada yang justru memperhatikan dengan rasa penasaran. Gelak tawa itu di telinga Nayara terdengar seperti derai pecahan kaca. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan wajah yang memerah. Tangannya gemetar saat mengambil sendok, hampir menjatuhkan makanan ke piring. Dalam hatinya, bara menyala semakin besar. Ia tahu, jika ia meledak di depan semua orang, Shanaya akan menang. Itu yang diinginkan Shanaya: membuatnya terlihat cemburu, membuatnya tampak lemah di hadapan keluarga besar. Dan yang lebih penting, anak-anaknya ada di sini. Ia tidak bisa membiarkan mereka melihat ibunya kehilangan kendali. Meski begitu, dalam di

