Sudah dua hari sejak pertemuannya dengan Salwa, namun hasilnya nihil. Sinta Mardika duduk di dalam mobil hitam berlapis kaca film pekat, menatap tajam ke arah gedung rumah sakit dari kejauhan. Matanya menyipit, menahan gejolak amarah yang menggelegak di d**a. Tangannya menggenggam ponselnya erat, nyaris meremukkan casing-nya. “Dia nggak goyah. Bahkan makin mesra dengan Jiva,” gumamnya pelan, penuh kejengkelan. “Sialan. Perempuan itu lebih kuat dari yang aku kira.” Dia menghempaskan punggung ke jok mobil, lalu menghela nafas kasar. Di dalam benaknya, tayangan pertemuan dengan Salwa di kantin rumah sakit kembali muncul. Betapa dia sudah menyusun narasi penuh racun, membungkusnya dengan ekspresi simpatik dan nada netral yang meyakinkan. Tapi Salwa—hanya diam, mendengarkan, lalu pergi tanpa

