Ivan menatap layar laptop dengan rahang mengeras. Jari-jarinya lincah membuka satu per satu folder di dalam flashdisk milik Rania yang tak sengaja ditemukan anak buahnya beberapa jam yang lalu. Data-data yang ada di dalamnya seperti kotak Pandora—rekaman suara, dokumen keuangan, bahkan video-video pertemuan rahasia dengan wanita yang mereka kenal sebagai si ‘misterius’. “Dia terlalu ceroboh,” gumam Ivan. “Kenapa semua ini disimpan dalam satu flashdisk kecil begini?” Jiva berdiri di belakang Ivan, tangannya disilangkan di d**a. “Karena dia panik. Dan panik membuat orang melakukan kesalahan.” Satu klik terakhir membuka rekaman berdurasi enam menit. Suara wanita misterius terdengar jelas, membahas transaksi uang dalam jumlah besar, janji untuk menjatuhkan Salwa, dan rencana pengalihan perh

