“Aduh, ini sendok kecil buat makan bubur, Aa’! Bukan buat aduk kopi!” seru Salwa dari balik dapur, matanya melotot sambil memegangi spatula. Jiva, yang sudah berdasi dan rapi hendak berangkat kerja, hanya mengangkat bahu, menyelipkan sendok kecil itu ke gelas kopinya. “Biar manisnya nempel lebih merata. Kamu nggak ngerti seni membuat kopi level pengacara.” Salwa mendengus sambil tertawa. “Itu sendok bayi, A’.” “Bayi juga butuh kopi kalau hidup serumah sama kamu,” jawab Jiva sambil mencuri cium di pipinya. Tawa Salwa pecah. Rumah yang mereka tempati kini—rumah impian yang selama ini hanya ada dalam bayangan—ternyata benar-benar terasa hidup. Bukan hanya karena dinding putih yang bersih atau taman kecil di belakang yang sudah ditanami bunga oleh Jiavala dan Oma Yasmin, tapi karena suara

