Salwa masih menunggu di kamar saat mendengar pintu utama dibuka. Dia mengintip jam dinding—hampir pukul sepuluh malam. Perutnya dipenuhi kupu-kupu, apalagi setelah membaca pesan singkat Jiva yang memberi isyarat soal kejutan. Langkah kaki di lorong semakin mendekat, disusul suara—kesusahan? “Aduh, ya ampun... gede banget ini... duh, duh—” Salwa mendongak dari ranjang, dan tepat di ambang pintu, muncullah Jiva. Wajahnya sedikit tertutup oleh buket bunga mawar putih raksasa. Sungguh, bukan sekadar buket. Ini buket. Bunga-bunga itu begitu banyak, begitu padat, dan begitu indah hingga hampir menutupi tubuh Jiva. Pria itu bahkan harus menggeser posisi sedikit demi sedikit agar bisa melewati pintu kamar. “MasyaAllah, A’!” Salwa langsung berdiri dengan mata membelalak. “Itu bunga atau pagar

