Menawar Bahagia

1042 Words

Setelah makan siang yang nyaris sempurna, suasana mendadak berganti. Salwa duduk seorang diri di kursi rotan di teras villa, menatap laut yang tetap tenang meski hatinya beriak. Sementara Jiva, sang suami tercinta yang baru saja memujanya beberapa jam lalu, kini tengah merebahkan diri di ranjang dengan posisi membelakangi. Punggung bidang itu naik-turun dengan nafas pelan, tapi bukan karena tertidur. Salwa tahu betul, Jiva sedang ngambek. Dia tidak bicara sejak kembali ke dalam kamar. Bahkan tidak menanggapi tawanya tadi, saat Salwa dengan canggung menjelaskan bahwa pesan dari teman kampus itu hanyalah hal remeh-temeh. Tapi rupanya bagi Jiva, itu cukup untuk menyalakan bara kecil bernama cemburu. Salwa memandangi suaminya beberapa detik dari balik pintu kamar yang setengah terbuka. Lalu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD