Ruang praktik Jiavala seperti biasa tak pernah benar-benar sepi. Tapi hari ini, suasananya terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih penuh harap. Lebih personal. Jiva menggenggam erat tangan Salwa ketika mereka duduk menunggu giliran. Tak seperti kunjungan pertama yang membuat Salwa tegang, kali ini dia lebih tenang—meski tetap saja degup jantungnya sedikit berpacu lebih cepat. “Kenapa kamu masih kelihatan gugup?” tanya Jiva, senyumnya penuh cinta. Salwa melirik suaminya dengan mata berbinar. “Karena hari ini aku pengin banget dengar detak jantungnya.” Jiva meremas tangannya lembut. “Kamu bakal denger. Dia pasti semangat banget mau ngobrol sama Bundanya yang cantik ini.” Tak lama kemudian, suara suster memanggil nama mereka. Salwa berdiri, dan Jiva menyentuh punggungnya penuh perhatian. Lan

