Di sudut kota yang tak terlalu ramai, toko kue kecil milik Salwa tetap hangat dan ramai. Aroma butter, cokelat, dan rempah manis berbaur dengan suara tawa pelanggan dan denting sendok di cangkir teh. Salwa baru saja mengantar satu kotak pesanan ke pelanggan setia, ketika pintu toko terbuka dengan suara lonceng lembut. Seorang wanita anggun masuk. Usianya sekitar awal tiga puluhan. Rambutnya sebahu dengan potongan rapi, mengenakan blazer krem dan celana bahan. Penampilannya profesional namun tetap elegan. Matanya tajam namun teduh. “Selamat siang. Apakah aku sedang bicara dengan Salwa?” tanyanya sopan, tersenyum kecil. Salwa mendekat, mengusap tangannya di apron. “Iya, aku Salwa. Ada yang bisa aku bantu?” Wanita itu menjulurkan tangan. “Aku Raina.” Salwa menerima uluran itu, sedikit b

