Dua Garis Merah dan Setitik Air Mata

1022 Words

Pagi ini, matahari belum sepenuhnya naik. Embun masih menempel malu-malu di kaca jendela kamar Salwa dan Jiva. Rumah itu tenang, hanya suara desir AC dan nafas lembut si kembar yang tidur di kamar seberang. Namun, Salwa gelisah. Sudah tiga hari ini tubuhnya terasa berbeda. Mual halus di pagi hari, d**a yang terasa sensitif, dan entah kenapa—aroma kopi favorit Jiva malah membuatnya ingin muntah. Awalnya dia menepis. Takut berharap, takut kecewa. Tapi pagi ini, saat dia menatap wajah suaminya yang masih terlelap dengan satu tangan memeluk selimut dan satu lagi memeluk bantal guling seperti anak kecil—hatinya memberontak. “Coba saja,” bisik batinnya. Dengan langkah hati-hati, Salwa membuka lemari obat. Di dalam laci kecil itu, masih tersimpan satu alat testpack. Hadiah dari Jiavala berbul

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD