Hidup yang Penuh Tapi Penuh Cinta

1095 Words

Sejak kembali dari Magelang, suasananya berubah sedikit—bukan lebih sepi, melainkan lebih dalam. Lebih hangat. Seperti Salwa tahu, dia tak hanya kembali ke rumah, tapi juga melanjutkan hidup dengan utuh. Pukul 06.30, suara blender dari dapur berpadu dengan nyanyian kecil Rasyid yang tengah duduk di kursi makan dengan sisa bubur ayam di pipinya. Rasyad sudah siap dengan kaus kaki terbalik, berusaha keras memakaikan topi untuk adik robotnya—Aleen—hadiah ulang tahun dari Papanya. "Rasyad, itu bukan cara pakai topi sayang. Adik robot jadi kayak ninja gitu," ujar Salwa sambil tertawa pelan dari balik apron. Aleen bergerak setelah tombol on dipencet si empunya. Sementara Jiva—yang baru saja turun dari lantai atas dengan rambut sedikit berantakan dan wajah belum terlalu sadar dunia—langsung me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD