Ngidam, Mangga, dan Pagi yang Aneh

1073 Words

Jam dua lewat lima belas dini hari. Rumah dua lantai milik keluarga kecil itu mendadak terang benderang. Bukan karena ada bahaya, bukan pula karena si kembar mimpi buruk—tapi karena Salwa, ibu dari dua bocah menggemaskan dan satu janin mungil, tiba-tiba duduk di tepi ranjang sambil mengendus udara. “Mangga.” Jiva yang awalnya tidur terbalik dengan wajah nyaris tertindih bantal langsung terbangun. “Mangga?” tanyanya dengan mata sipit dan rambut berantakan. Salwa mengangguk. “Mangga muda. Harus yang asem. Terus dikasih gula merah cair. Sama cabai rawit di uleg. Tapi nggak boleh terlalu pedas. Dan mangga-nya harus yang masih seger dipetik dari pohon, bukan beli yang udah potongan.” Jiva menatap istrinya seperti baru pertama kali melihat Salwa dalam hidupnya. “Sayang, ini jam dua pagi.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD