Jumat pagi di pinggiran Jayadwipa terasa lebih lembap dari biasanya. Di lantai dua ruko yang merangkap menjadi tempat persembunyiannya, Desi Puspita sedang duduk di depan meja kayu kecil yang diterangi lampu belajar temaram. Tangannya yang biasanya lincah mengiris daging manusia, kini bekerja dengan ketelitian mikroskopis merakit sebuah perangkat elektronik ilegal. Di depannya tergeletak sebuah tabung kaca kecil berukuran jempol orang dewasa. Di dalamnya terdapat cairan bening transparan—sebuah formula kimia terlarang yang ia dapatkan dari pasar gelap Kilastra sebelum ia melarikan diri. Ini bukan bom ledak yang akan menghancurkan gedung, melainkan Bom Asap Feromon Transparan. Zat ini, jika terhirup, akan bereaksi langsung dengan sistem saraf pusat, memicu lonjakan dopamin dan gairah seksu

