Matahari hari Kamis di Karta tidak terbit dengan kehangatan yang biasa menyapa para pedagang bunga; ia muncul dengan kemarahan blitz kamera dan tajamnya tinta digital yang menghujam dari segala penjuru. Pagi itu, atmosfer di kota terasa menyesakkan. Layar-layar televisi di lobi gedung pencakar langit PGG hingga gawai milik buruh pasar menampilkan gambar yang sama: Virian Pratama, sang pahlawan korporat yang baru saja dipuja, tertangkap kamera sedang menggenggam pundak seorang wanita tuna netra di Taman Anggrek yang berdebu. Headline di kanal berita Daily Bisnis berkedip dengan warna merah darah yang provokatif: "SKANDAL MAWAR KARTA: CEO PGG MENUKAR BERLIAN DENGAN RUMPUT LIAR?". Sementara itu, portal News Karta menulis dengan lebih tajam: "PELARIAN SANG CEO: ANTARA INTEGRITAS PERUSAHAAN AT

