Langkah kaki Virian Pratama yang berat bergema di koridor marmer Sektor 7 saat ia meninggalkan kamar Karina. Wajahnya yang memerah padam karena amarah kini perlahan mendingin menjadi ekspresi yang jauh lebih mengerikan—dingin dan mematikan. Di ujung koridor, Zen Adipura berdiri mematung, masih memegang radio komunikasinya yang sesekali berderit pelan. "Zen," panggil Virian, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Iya, Bos," Zen segera tegak, menyadari bahwa "Vir" yang lembut sudah hilang sepenuhnya, digantikan oleh CEO PGG yang sedang dalam mode perang. "Lakukan sekarang. Hubungi Kido. Aku tidak peduli dia sedang tidur, sedang meretas bank sentral, atau sedang di ujung dunia. Katakan padanya, aku butuh otaknya di Sektor 7 dalam satu jam. Jika dia menolak, katakan padanya aku akan mengha

