Malam di Karta tidak pernah sesunyi ini, meskipun guntur masih sesekali membelah langit. Kepergian mobil sedan hitam Virian meninggalkan keheningan yang menyesakkan di depan toko bunga Karina. Di dalam toko, udara terasa berat, bukan hanya karena aroma tanah basah dan sisa-sisa hujan, tetapi karena luka yang menganga lebar di hati seorang wanita yang hanya menginginkan ketenangan. Karina masih bersandar di balik pintu kayu yang dingin. Jemarinya yang gemetar meraba secarik kertas yang diselipkan Virian sebelum pria itu pergi. Ia tidak bisa melihat guratan tinta di atasnya, namun ia bisa merasakan tekstur kertas yang mahal, kontras dengan kekumuhan gang Karta yang kini menjadi medan perang. Baginya, kertas itu bukan lagi surat cinta, melainkan bukti otentik dari jurang pemisah antara duni

