Bab 15. Pertemuan Karena Takdir

1019 Words

Hari Minggu adalah hari yang paling dinanti oleh Lingga. Anak 9 tahun tersebut memeluk erat pinggang sang ibu. Kepala yang terbungkus helm warna putih itu menoleh ke samping. “Buma, Bapak Tama pintar naik motor?” tanya Lingga ingin tahu. Dia tidak punya banyak ingatan tentang bapaknya. “Apa?” Runa yang sedang mengendarai kendaraan roda duanya itu melirik sang putra dari spion. Dia mendengar Lingga berbicara, namun tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh sang putra. Lingga mengerutkan bibir. Anak itu cemberut. Dia merasa sudah bicara dengan suara yang keras. Tapi ternyata bumanya masih tidak mendengar. “Nanti saja!” teriak Lingga merasa percuma kalau harus mengulang pertanyaannya. Nanti saja kalau mereka sudah sampai, dia akan bertanya. Lingga tersenyum mengingat tempa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD