Kalandra tidak membuang waktu. Dengan satu gerakan dominan, dia mengunci kedua pergelangan tanganku di atas kepala dengan hanya satu tangan besarnya. Tubuh besarnya yang panas menghimpitku habis-habisan ke atas kasur, membuatku bisa merasakan setiap inci ototnya yang mengeras. "Jadi, kamu ingin belajar, hm?" bisik Kalandra. Suaranya rendah, bergetar di telingaku seperti ancaman yang sangat nikmat. Aku mendongak, menatap matanya yang sudah sepenuhnya gelap oleh kabut nafsu. "Iya, Mas. Ajari aku ... ajari aku cara menyenangkanmu sampai Mas tidak bisa memikirkan wanita lain. Ajari aku kenapa tubuhku selalu bereaksi gila setiap kali Mas menyentuhku." Kalandra menyeringai, sebuah ekspresi predator yang sangat jantan. Dia melepaskan kuncian tanganku, tapi sebagai gantinya, jemarinya yang kasa

