Matahari baru saja mengintip di ufuk timur saat aku bersiap untuk jogging. Aku sedang mengencangkan tali sepatu lari ketika ponselku di atas meja bergetar pendek berkali-kali. Notifikasi pesan masuk beruntun. Aku tahu siapa pelakunya. Aku membukanya, dan seketika kurasakan darahku berdesir panas hanya dengan membaca baris demi baris kata yang dia kirimkan. Aku terkekeh rendah, sebuah tawa serak yang tertahan di tenggorokan. Gadis ini benar-benar tidak tahu batasan. Dia sengaja menyerangku saat dia tahu aku sedang sibuk agar aku tersiksa sepanjang jalan. Jemariku bergerak lincah membalas pesannya dengan nada yang tetap terkendali namun dominan. Kalandra "Simpan fantasimu itu sebentar, Sayang. Aku mau olahraga dulu, cuma satu jam. Setelah ini, aku akan kembali dan memberikan balasa

