Pintu jati besar itu terbuka, bukan hanya Pak Hendra sang pengacara yang melangkah masuk. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya berwibawa dengan setelan jas mahal—Pak Sebastian, pemilik raksasa properti sekaligus rekan bisnis strategis Kalandra. Namun, sosok yang berdiri di samping Pak Sebastian-lah yang membuat napas Alea tertahan di tenggorokan. Mata Alea membelalak sempurna, jemarinya yang menggenggam cangkir teh di atas meja gemetar hebat hingga menimbulkan bunyi denting porselen yang beradu. "Gi-Gilbert? Astaga ... untuk apa dia ke sini?!" Suara Alea pecah, nada bicaranya naik satu oktav, sarat akan ketakutan dan amarah yang mendalam. Trauma malam di hotel ternama itu kembali menyerang, aroma alkohol, ruang redup, dan wajah Gilbert yang tampak rakus saat itu seolah terput

