Aku melotot. Apa Kalandra serius? “Apa? Daddy suka Alea?” tanya Alisa, sama kagetnya denganku. “Ya, pertama kalinya daddy tertarik setelah sekian lama daddy hidup sendiri,” jelas Kalandra, suaranya tenang, seolah menegaskan fakta sederhana. Aku meneguk ludah. Aku menutup mata, berharap Kalandra menyudahinya. Alisa tidak mengira jika Daddy-nya akan mengatakan hal itu, bahwa Daddy-nya akan mengakui perasaannya, menyukai sahabatnya. Kini Alisa menatapku, berharap aku tidak merespons perasaan Kalandra. Dia memohon agar aku berpihak padanya, pada persahabatan kami. Aku hanya bisa menunduk, basah kuyup. Aku tidak memberi jawaban apa-apa kepada Kalandra, tetapi diamku sudah menjadi jawaban bagi Alisa. Aku mengangkat wajahku sedikit. "Lis, maafkan aku," bisikku, "aku harap kamu tidak mengang

