Waktu semakin siang saat keduanya memutuskan untuk segera pulang dari tempat acara. Namun, melihat antrean lift yang mengular seperti naga, Ishana langsung menarik lengan Aruntala. “Jika kita ikut menunggu lift, bisa sampai besok pagi kita tidak bisa keluar dari sini, Aru. Lebih baik kita turun lewat tangga darurat saja. Bagiamana?” Aruntala yang merasa sudah gerah dengan toganya langsung mengangguk setuju. Mereka melangkah menepi ke pintu bertuliskan tangga darurat, membuka pintu besi berat itu dan mulai melangkah turun sambil melanjutkan obrolan soal rencana makan siang. Namun, baru mereka melewati satu lantai, langkah Aruntala mendadak terkunci. Napasnya tercekat di tenggorokan ketika di sudut bordes tangga yang remang-remang, matanya menangkap dua orang yang sedang berpagut bibir

