“Aru?” panggil Dewangga pelan. “Hmmn....” Sorot mata yang selalu tajam dan dalam itu seketika berubah menjadi jahil saat ia menatap intens ke arah d**a Aruntala yang terbalut dress floral itu. “Apakah ia masih sering sakit, Aru?” tanya Dewangga lembut, seraya menunjuk dengan dagu pada dua bongkahan milik Aruntala yang menyembul indah di balik kerah sweetheart gaunnya. Pertanyaan itu seketika membuat wajah Aruntala terasa panas, rona merah menjalar hingga ke telinganya. Ya Tuhan, bagaimana bisa pria ini menjadi sangat m***m di jam enam pagi? pikir Aruntala dalam hati, merasa tidak percaya dengan perubahan drastis Dewangga dari mode bos yang kaku menjadi pria penggoda. Refleks, Aruntala mencubit d**a Dewangga yang tertutup kemeja putih mahal dan membuat Dewangga mengerang kecil. Namu

