10. Mengikat Aruntala dalam Sebuah Kontrak

1109 Words

Restoran Prancis itu begitu tenang, denting alat makan yang beradu dengan porselen terdengar samar di balik dinding private yang kedap suara. Aruntala duduk dengan punggung tegak, merasa sedikit canggung di antara kemewahan yang tidak biasa ia jamah. Di hadapannya, Dewangga duduk dengan setelan jas tailor-made yang sempurna. Pria itu menyesap anggur merahnya perlahan, matanya tidak sekalipun lepas dari wajah Aruntala. Tatapannya intens, seolah sedang menelanjangi setiap keraguan yang ada di benak wanita itu. Dewangga menggeser sebuah map kulit berwarna hitam ke tengah meja. “Bacalah.” Aruntala mengerutkan kening, jemarinya yang sedikit gemetar membuka dokumen tersebut. “Ini... kontrak ibu s**u?” Aruntala mendongak, suaranya nyaris berbisik. Dewangga hanya menaikkan salah satu alisnya,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD