Malam itu, kediaman Langston terasa lebih hangat dari biasanya. Elnino sudah terlelap di kamarnya setelah menyusu dengan tenang, meninggalkan Aruntala dengan perasaan lega yang membuncah. Aruntala berdiri di tengah ruang makan yang megah, merapikan letak sendok perak dan memastikan vas bunga lili putih di tengah meja sudah tegak sempurna. Tangannya sedikit pegal, tapi hatinya penuh luar biasa. Pagi tadi dia adalah seorang mahasiswi yang berhasil lolos di ruang sidang, lalu siang harinya dia kembali menjadi bagian dari penghuni panti asuhan Bu Tara. Melihat tawa anak-anak panti dan beberapa teman sebaya saat menyantap nasi tumpeng sederhana yang ia bawa tadi sore adalah kado kelulusan terbaik baginya. “Nona Aruntala, Tuan Oetman baru saja memberi kabar. Mobil Tuan Dewangga sudah memasu

