19. Sebuah Gangguan Kecil

876 Words

Dewangga tidak langsung menuntut. Ia masih dalam posisi menindih, napasnya yang beraroma alkohol menerpa wajah Aruntala dengan ritme yang berat. Matanya, yang biasanya tajam dan penuh intimidasi, kini menatap Aruntala dengan cara yang berbeda. Lebih dalam, seolah sedang membaca setiap inci ketakutan yang ada di balik manik mata wanita itu. ​Aruntala menahan napas. Jantungnya berdentum begitu keras di balik dadanya yang masih merasakan sensasi hangat dari wajah pria itu tadi. Ia ingin mendorong, tapi tangannya seolah membeku, terjebak dalam daya tarik magnetis yang selama ini ia hindari. ​“Tu—tuan Dewangga...” panggil Aruntala lirih. Suaranya bukan lagi sebuah perintah, melainkan sebuah pengakuan bahwa pertahanannya telah retak. ​Dewangga menyunggingkan senyum tipis—senyum yang tidak men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD