“Sayang, kamu mau selesaikan masalahnya di butikmu atau di kantorku aja?” tanya Andre saat Maura memasangkan dasi untuknya. “Serius ya masalahnya?” “Kalau gak kamu selesaikan bisa bikin butikmu tutup.” “Serius? Besar kebocorannya?” “Lumayan. Gimana? Mau di butik saja?” “Plus-minusnya?” “Kalau di butik, semua karyawanmu akan tahu. Bagus sih biar gak ada yang berani lagi. Tapi mereka bisa gak berhenti ngegosipnya.” “Di kantor aja gak apa-apa?” “Gak apa-apa. Hari ini ya. Biar selesai sebelum kita ke Singapura.” Maura mengangguk. “Nanti kabari aja kamu siap jam berapa, biar dijemput sopir.” “Gak kamu yang jemput?” “Kan sama karyawanmu sekalian.” “Makasih ya, Sayang,” Maura mengalungkan tangannya di leher Andre kemudian berjinjit untuk mengecup bibir suaminya. “Mulai deh, mancing-

