“Maman?” “Ya, ma chérie?” “Lihatlah tangan Aya.” Belle mendekat, mengamati jemari mungil bayinya, lalu keningnya mengernyit. ‘Tak ada yang salah,’ batinnya. “Aya seperti sedang memegang sesuatu,” ujar Rosé lagi. ‘Aaa!’ Belle terkekeh. “Karena waktu di perutku, tangannya selalu begitu. Dan setelah lahir, bayi belum tau harus melakukan apa dengan tangannya.” Rosé mengangguk-angguk. “Nanti Aya akan membukanya?” “Tentu.” “Itu karena Aya masih bayi?” Belle mengangguk. “Oke.” “Apakah Maman boleh menyiapkan makan malam dulu? Rosé bisa menjaga Aya sebentar?” “Bisa!” jawabnya, nyaris memekik antusias. Setiap sore, selepas ketiga malaikat kecilnya pulang, rumah kembali terasa ramai. Ada hal-hal yang tumpang tindih seperti suara napas bayi, percakapan Belle dengan Marcel, Livio, dan Lyan
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


