Abimana berdiri tegak di balik jendela kaca setinggi langit-langit lantai lima puluh, mengamati kemacetan Jakarta yang tampak seperti barisan semut dari ketinggian. Sinar matahari pagi yang keras menembus ruangan, namun tidak mampu mencairkan hawa dingin yang menguar dari tubuh sang Ketua Klan Serigala Hitam tersebut. Di dalam kabin mobil tadi, ia telah bertransformasi sepenuhnya. Sosok ayah yang lembut saat menggendong Bian telah menguap, berganti menjadi predator puncak yang memegang kendali atas imperium Narendra Tama Grup. Surya berdiri di ambang pintu dengan sikap sempurna, menunggu instruksi selanjutnya sementara tablet di tangannya terus memberikan notifikasi pergerakan pasar yang kacau. Aroma kopi pahit dan cerutu mahal memenuhi ruangan kerja yang didominasi kayu ebony terse

