Abimana mengemudi perlahan di jalanan yang sudah sepi, kehangatan pelukan mereka masih terasa. Ia memegang tangan Tiara, menggenggamnya erat. "Sayang," panggil Abimana. "Ini tentang apa yang ditanyakan Clarisa tadi. Tentang kehamilan dan penundaan kita. Aku harus jujur padamu. Ini adalah sesuatu yang kusimpan demi kebaikanmu." Tiara menatapnya dengan rasa penasaran yang besar. Ia amat terkejut. "Mas, apa maksud kamu mengaitkan masalah penundaan anak dengan kesehatanku? Aku merasa baik-baik saja." "Aku tahu kamu merasa baik-baik saja," jawab Abimana, nadanya sedikit tegang. "Tapi ada diagnosis yang tidak pernah kuberitahu padamu. Aku harus tunjukkan buktinya. Tapi kita tidak akan pulang." "Lalu kita mau ke mana?" tanya Tiara bingung. Abimana menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. "

