Begitu mobil berhenti di depan lobi kediaman mereka yang megah, Tianara langsung menyambar tasnya dan berlari masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Ia ingin segera mengunci diri di kamar, menenggelamkan diri dalam kemarahan yang meluap-luap. Namun, langkahnya terhenti di anak tangga pertama. Sebuah tangan besar dan hangat menangkap pergelangan tangannya. Dengan satu gerakan tegas namun terkendali, Abimana menarik putrinya berbalik. Tangan satunya lagi bergerak cepat melepas earphone yang menyumbat telinga Tianara. "Papa!" Tianara memekik kesal, bibirnya mengerucut tajam. Abimana tidak marah. Pria yang biasanya ditakuti oleh dunia bisnis dan bawahannya itu kini justru menunduk, menatap mata putrinya dengan tatapan yang sangat lembut—sisi yang hanya ia tunjukkan pada Tiara dan anak-ana

