Abimana tidak memberi kesempatan Tiara untuk menjawab. Ia sudah mengunci bibir istrinya, memimpin ciuman dengan kelembutan yang menghormati namun diselipkan janji gairah yang kuat. Ini adalah ciuman kelegaan, kebahagiaan, dan hasrat yang tertunda. “Aku rindu menciummu tanpa takut membuatmu muntah,” gumam Abimana di sela ciuman, menarik Tiara ke dalam pelukannya. Tiara mendesah pelan, membalas ciuman Abimana dengan seluruh energi barunya. Ia merasakan tubuhnya, yang kini lebih tenang dari badai mual, merespons setiap sentuhan. Benar kata Dokter Renata ia kini jauh lebih bersemangat. Kehamilan ini, alih-alih meredam, justru meningkatkan libido-nya. “Aku lebih rindu kamu, Mas,” bisik Tiara, tangannya merayap masuk ke dalam kemeja Abimana, mengusap punggung suaminya dengan sensual. Abimana

