Abimana baru saja hendak menaruh piring buah ke meja kecil ketika Tiara menarik ujung bajunya. “Mas Abi,” panggil Tiara pelan. Suaranya lembut, namun ada tarikan liar dan manja yang langsung membuat pusat d**a Abimana berdenyut. Ia menoleh. Mata mereka bertemu. “Apa lagi, Sayang?” Tiara duduk lebih dekat, meraih wajah Abimana dengan kedua tangannya yang kecil. Matanya memancarkan hasrat yang tak tersembunyi. “Sini. Aku haus.” Abimana mencondongkan tubuh, seluruh ototnya menegang karena antisipasi. Tiara mencium pipinya. Satu kali. Lalu pipi satunya. Lalu ujung hidungnya. Ciuman kecil itu bertubi-tubi, cepat, ringan, tapi setiap sentuhannya mengalirkan gelombang panas yang membuat Abimana seketika menegang di bagian bawah. “Tiara,” gumam Abimana, suaranya kini berat dan parau, menahan

