Dua Bulan Kemudian... Suara ketukan logam yang beradu dengan lantai marmer kediaman Atmajaya menjadi simfoni baru yang memecah keheningan pagi. Letizia Tanuwijaya, dengan rambut yang kini dibiarkan tergerai bebas menyentuh bahu, tampak berkonsentrasi penuh. Tangannya mencengkeram erat kruk penyangga, sementara kedua kakinya yang kini mulai kembali memiliki kekuatan mencoba melangkah dengan irama yang lebih stabil. Jourell berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Tatapannya tak pernah lepas, seolah ia adalah jangkar yang menjaga Letizia agar tidak terseret arus. "Sedikit lagi, Zia. Fokus padaku," gumam Jourell, suaranya berat namun memberikan dorongan yang mutlak. Letizia mendongak, peluh

