Mobil Rolls-Royce hitam itu melaju tenang meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota Jakarta. Letizia sejak tadi hanya diam, menatap ke luar jendela dengan dahi berkerut. Jalanan ini... ia sangat mengenalinya. Ini adalah jalan menuju masa lalunya. "Jourell, kita mau ke mana? Ini kan jalan ke rumah lamaku?" tanya Letizia, suaranya sedikit bergetar. Jourell tidak menjawab. Ia hanya meraih tangan Letizia, menggenggamnya erat dan mengecup punggung tangan istrinya itu dengan penuh pemujaan. "Pejamkan matamu, Zia. Jangan dibuka sampai aku menyuruhmu." Letizia menurut, meski jantungnya berdegup kencang. Begitu mobil berhenti dan Jourell membantunya turun, aroma bunga sedap malam dan melati langsung menyambut indra penciumannya. "Sekarang, buka matamu." Letizia perlahan membuka mata, dan seketika

