"Sebenernya gini, kita itu sama. Yang membedakan, kamu buka-bukaan di awal, sedangkan Mas nggak. Tapi di sini bukan berarti mau Mas tutupi juga, dan itu bukan rahasia." Aylin menatap pria di depannya, yang kini duduk di tepi ranjang, sedangkan Aylin duduk bersandar ke dashboard-nya. Yeah ... tadi terpotong magrib dulu. Sekarang sehabis salat, Om Baja mendekat. Aylin cium tangan—soalnya disodorkan tangan sama om suami. Dan Om Baja langsung melanjutkan pembicaraan sebelumnya. Satu hal yang pasti, tangan Aylin digenggam, tak dilepas sehabis Aylin cium tangan tadi. Dan sekadar mengingatkan, Aylin masih mens. "Awalnya gini, Lin. Mas, kan, ditagih nikah terus sama mami. Dan kamu tahu waktu itu Mas juga diagendakan kencan sama Ovi, dosenmu, yang kita ketemu di kafe. Ingat?" Aylin diam. Bibir

