Kamelia melangkah gontai keluar dari lift, berjalan menuju ruangan Aksa dengan paper bag oren di tangannya. Dia berhasil membawa pulang pakaian Aksa yang di laundry tadi. “Beruntungnya aku, ada orang sebaik dia di sana tadi,” hembusnya. Tadi, di tempat laundry mewah itu, Kamelia hampir saja tak bisa membayar ongkos cuci cepat itu karena uangnya kurang. Hanya saja, manajer laundry di sana bersedia memberikan keringanan, yaitu dengan upah kerja di sana selama seminggu karena kebetulan mereka sedang membutuhkan pekerja tambahan sebagai pengantar barang cucian itu. Selain dia bisa membayar ongkos cuci itu, Kamelia merasa senang karena dia akan mendapat uang lebih dari sisa bayarannya itu nanti. “Lia, darimana kamu?” sapa Mirna, dia baru saja keluar dari ruangan Aksa sambil sibuk merapikan p

