Aksa mendorong bahu Kamelia sehingga ciuman mereka pun selesai, dia menatap bingung pada gadis itu yang terengah menatapnya. “Mas?” “Ada apa, Kamelia? Apa yang terjadi sampai kamu seperti ini?” tanya Aksa dengan tatapan penuh tanya, sekaligus khawatir. Kamelia yang awalnya penuh semangat dan tekad, terpaku mendengar itu. Binar matanya semula tajam perlahan pecah. Seperti kaca yang lalu menggenang mengeluarkan airmata, gadis itu tertunduk dalam sambil meremas sprei dengan gugup. “Kamelia, Sayang. Cepat katakan saja, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Aksa. Kamelia malah tergugu dan menangis, rasa malu tak terkira melingkupinya. Rasanya dia tak sanggup melihat wajah Aksa. “Kamelia–” “Jangan sentuh!” tukas Kamelia menepis tangan Aksa yang hendak menyentuhnya. Tentu saja Aksa kaget

