Daylon menunggu dengan tegang, baru kali ini dia merasa tangannya sampai kebas dan dingin karena gugup. Menunggu di meja ijab kabul, menantikan kemunculan calon istrinya untuk datang. “Sudah siap, Tuan?” sapa penghulu yang muncul menyentuh bahunya. Daylon menoleh padanya tanpa senyum sedikitpun. “Kenapa malah Anda yang muncul?” ujarnya ketus. Tak hanya penghulu itu, terdengar suara desah terkejut dari sekitarnya. Membuat Daylon mengerjap , langsung memejamkan mata mengutuk dirinya sendiri. Tak sadar jika dia sejak tadi duduk di tengah-tengah ruangan yang penuh dengan kerabat dekat kedua keluarga dia dan Zalikha. Alfredo justru terkekeh melihat tingkah anak bungsunya itu. Sementara yang lain hanya memalingkan wajahnya dengan bibir rapat menahan tawa. “Aku jadi penasaran seberapa cant

