Dering ponsel itu berhenti, Aksa merasa lega karena benda itu tidak berbunyi lagi. Besar kemungkinan jika itu adalah Kamelia, karena memang dialah satu-satunya yang dia simpan di daftar kontaknya. Antara lega tapi juga cemas, menebak apa yang terjadi sehingga Kamelia meneleponnya lebih dulu. “Itu … ponsel kamu?” tanya Sarah, dengan tatapan mulai menyiratkan kecurigaan. Aksa memutar otaknya dengan cepat. “Eh, sepertinya itu alarm dari ponsel Max yang ketinggalan tadi!” ujarnya berbohong. Alis Sarah terangkat mendengarnya. “Kok bisa Max ketinggalan ponsel? Dia kan orangnya teliti dan nggak teledor!” ujarnya. “Ya, ada kalanya dia bisa ceroboh juga, kamu tahu dia bekerja dengan penuh dan mampu melakukan tugas penting perusahaan yang aku berikan!” tukas Aksa tersenyum kaku. Sarah mengang

