Rita melipat pakaian di ruang keluarga, satu per satu dengan gerakan teratur. Jarum jam dinding telah menunjukkan angka tujuh, dan langit di luar mulai gelap. "Bima ke mana, Ta? Kok belum pulang juga?" tanya Irma, ibu kandungnya, dari kursi di seberang. Matanya tajam, mengamati setiap gerak Rita. Rita tidak mengalihkan pandangan dari baju di tangannya. "Masih di bengkel, Bu. Mungkin lagi banyak pesanan." Ucapannya datar, meski di dalam d**a dia tahu persis bahwa malam ini adalah jadwal Bima bersama Calista. "Pulang malam terus akhir-akhir ini. Bengkelnya memang sedang laris, ya?" "Biasa saja, Bu. Tidak ramai, tidak juga sepi." Irma mendesah panjang. "Kalau biasa saja, kok kamu bisa beli emas baru?" Matanya menatap gelang di pergelangan tangan Rita yang ditaksir kalau itu adalah emas a

