167. Pembalasan

2020 Words

Pagi itu, Calista duduk di kursi dapur dengan ponsel masih tergenggam. Layarnya sudah gelap, tapi matanya masih menatapnya kosong. Percakapan dengan kakeknya tadi masih berputar di kepala. "Dia memilih tetap berada di Jakarta, Ly." Calista menghela napas pelan. Dia meletakkan ponsel di atas meja, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu tanpa irama. Pintu kamar terbuka. Bima keluar dengan penampilannya yang segar, kaus putih polos dan celana jeans andalannya. Dia berjalan mendekat, dan begitu melihat istrinya, senyum langsung merekah di wajahnya. Bima menunduk, mengecup puncak kepala Calista. Kedua tangannya bertumpu di pundaknya, hangat. "Aku buatin kopi." Calista menepuk tangan Bima, lalu bangkit menuju dispenser. Bima menarik kursi dan duduk di meja makan. "Makasih, Sayang." Di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD