199. Melamarmu

1888 Words

Satu bulan berlalu. Waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka, meski bekasnya masih samar di perut Nathan, dan mungkin juga di hati. Tapi pagi itu, saat dia berdiri di depan cermin kamar, membuka kemeja dan menatap perban yang kini hanya tinggal plester kecil, dia tersenyum. Luka itu nyaris sembuh. Sama seperti hidupnya yang perlahan mulai teratur. Dia juga sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Tapi ada yang berubah. Rak bar di loungenya kini lebih banyak diisi jus segar dan air mineral daripada whiskey dan vodka. Dia juga lebih sering terlihat di gym daripada di meja bar hingga larut malam. Usianya yang tak lagi muda membuatnya sadar, jika dia harus menyeimbangkan pola hidup. Dan ada alasan lain. Sebuah alasan yang membuatnya tersenyum setiap kali memikirkannya. Dia akan menikahi seor

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD