53. Undangan Pesta

1229 Words

Setelah makan siang bersama ibunya, langkah Calista menuju butik terasa lebih berat dari biasanya. Wajahnya, yang biasanya tersenyum ramah pada siapa pun, hari ini tertutup awan mendung. Dia melewati area toko dengan tatapan lurus ke depan, menghindari kontak mata dengan Vivi dan Nilam yang sejak kemarin menghindar dan saling berbisik setiap kali dia lewat. Udara di antara mereka terasa dingin dan kaku. Calista menghela napas halus. Dia tidak punya energi untuk memperbaiki persepsi mereka tentang pernikahannya dengan Bima. Pikirannya masih berputar pada percakapan dengan ibunya tadi, tentang Bima, tentang statusnya, tentang harapan seorang cucu. Dia masuk ke ruangannya dan meletakkan tas tangannya dengan agak kasar di atas meja. "Ly." Vivi muncul di ambang pintu, suaranya datar, tanpa s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD