39. Pagi Manis

1344 Words

Bima mengerang perlahan dalam tidurnya, matanya terbuka setengah, disambut cahaya pagi yang temaram merambat melalui tirai. Napasnya masih berat, dadanya naik turun perlahan. Dia bergerak terlentang, menatap langit-langit kamar yang putih dan kosong, sebelum akhirnya menoleh ke samping. Di sana, Calista terbaring membelakanginya, selimut hanya menutupi sampai pinggangnya, memperlihatkan punggungnya yang halus dan pucat dalam cahaya pagi. Rambutnya yang coklat berantakan bertebaran di bantal, seperti sapuan kuas yang tidak beraturan. Tangan Bima terulur untuk meraih selimut, ingin menariknya lebih tinggi, tapi ujung jarinya tak sengaja menyentuh kulit Calista. Hangat. Lembut. Seperti sutra yang hidup. Dia terdiam sejenak, lalu bergerak mendekat, tubuhnya membentuk lengkung di belakang Cal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD