Saat hendak berbalik, ia berhenti. Menatap Irwan yang masih duduk dengan wajah lesu. "Om." Suaranya kembali tenang. "Kalau Om mau jual bangunan itu ... tolong kabari saya." Irwan mendongak. Alisnya bertaut. "Bagaimana mau menjual, Abby? Tanahnya aja milikmu." Nada suaranya malas, seperti sedang bicara pada anak kecil yang keras kepala. "Kan ... andai saja Om mau jual." Abby tersenyum tipis. Tidak hangat. Hanya formalitas. "Abby." Suara Yulinar memotong. Tajam. Abby menoleh. "Ya, Tan?" Yulinar bangkit dari kursinya, melipat tangan di d**a. "Kamu nggak mau kenalin pria yang bersama kamu waktu itu?" Matanya menyipit, penuh selidik. "Siapa dia? Suamimu? Atau ...." ia berhenti, tersenyum sinis, "... kamu dijadikan simpanan?" "Kak, apa maksudnya?" Irwan ikut menatap kakaknya, bingung. Abb

